Program Studi Teknik Sipil

"Institut Teknologi Sumatera"

               

Kegiatan Prodi

Bendungan Batutegi

Pembangunan bendungan Batutegi dimulai dari tahun 1995. Biaya yang digunakan untuk membangun bendungan Batutegi diambil dari dana APBN pemerintah pusat. Selain itu pemerintah pusat juga meminjam uang ke Japan Bank For International Cooperation untuk membiayai pembangunan bendungan. Pemerintah Indonesia menggunakan jasa konsultan dari dalam dan luar negeri. Ada PRC Engineering dari Amerika, Sinotech dari Taiwan, dan Kadenus yang merupakan konsultan dalam negeri. Pada saat proses pembangunan pada tahun 1998, bendungan ini sempat memakan korban jiwa dari para pekerjanya. Mereka tewas setelah tertimpa mesin pengecor semen yang mempunyai berat puluhan ton pada saat sedang membangun salah satu terowongan pembuangan air di bendungan Batutegi. Total ada 13 korban jiwa yang meninggal pada saat kejadian. Untuk memperingati para korban yang meninggal pada saat membangun bendungan, pemerintah membuatkan sebuah tugu peringatan yang berisi ketiga belas nama dari korban jiwa pekerja bendungan. Tugu peringatan ini bisa anda temui pada salah satu bagian di puncak bendungan. Bendungan Batutegi selesai dibangun dan mulai dibuka pada tahun 2004. Peresmian bendungan terjadi pada tanggal 8 Maret 2004. Proses peresmian itu sendiri dilakukan oleh Presiden Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Ibu Megawati Sukarnoputri. Informasi ini bisa terlihat dari prasasti peresmian yang terbuat dari batu marmer hitam yang terletak pada salah satu bagian di puncak bendungan. Bendungan Batutegi mempunyai kapasitas penampungan yang mampu menahan debit air sebanyak 9 juta meter kubik. Pada saat PLTA yang berada di bendungan ini mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas total mencapai 125,2 giga watt pertahun. Selain dimanfaatkan untuk menjalankan PLTA, bendungan Batutegi juga berfungsi sebagai penyuplai aliran air yang digunakan oleh puluhan ribu hektar area persawahan yang dilewati oleh aliran sungai dimana bendungan berada. Bendungan Batutegi yang merupakan bendungan terbesar di Asia Tenggara terletak di Kabupaten Tanggamus, Lampung.

MRT Jakarta

Pada tahun 2005, Presiden Republik Indonesia menegaskan bahwa proyek MRT Jakarta merupakan proyek nasional. Telah disetujui kesepakatan antara JBIC dan Pemerintah Indonesia, untuk menunjuk satu badan menjadi satu pintu pengorganisasian penyelesaian proyek MRT ini. JBIC kemudian melakukan merger dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA bertindak sebagai tim penilai dari JBIC selaku pemberi pinjaman.  Ditinjau dari perspektif manajemen, baik BP maupun BUMD/PD tidak memiliki fleksibilitas yang cukup untuk alih daya (outsource) maupun bekerjasama dengan sektor swasta, sehingga beresiko terjadinya in-efisiensi karena terbatasnya pendanaan dari Pemerintah Daerah. Sementara BUMD/PT memiliki fungsi yang sama dengan sektor swasta sehingga mampu memanfaatkan sumber daya eksternal secara maksimal. Berdasarkan hal inilah maka kemudian dibentuk PT MRT Jakarta. Proyek MRT Jakarta akan dimulai dengan pembangunan jalur MRT tahap I sepanjang ±16km kilometer dari Terminal Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia yang memiliki 13 stasiun berikut 1 Depo. Untuk meminimalisir dampak pembangunan fisik tahap I, selain menggandeng konsultan manajemen lalu lintas, PT MRT Jakarta juga memastikan telah memiliki Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Pengoperasian Tahap I akan dimulai pada tahun 2018. Pembangunan Jalur MRT Tahap I ini akan menjadi awal sejarah pengembangan jaringan terpadu dari sistem MRT yang merupakan bagian dari sistem transportasi massal DKI Jakarta pada masa yang akan datang. Pengembangan selanjutnya adalah meneruskan jalur Sudirman menuju Kampung Bandan yang akan disebut jalur Utara-Selatan serta pengembangan jalur Timur-Barat.

  • Dalam tahap Engineering Service, PT MRT Jakarta bertanggung jawab terhadap proses prakualifikasi dan pelelangan kontraktor.
  • Dalam tahap Konstruksi, PT MRT Jakarta sebagai atribusi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menandatangani kontrak dengan kontraktor pelaksana konstruksi, dan konsultan yang membantu proses pelelangan kontraktor, serta konsultan manajemen dan operasional.
  • Dalam tahap operasi dan pemeliharaan, PT MRT Jakarta bertanggung jawab terhadap pengoperasian dan perawatan, termasuk memastikan agar tercapainya jumlah penumpang yang cukup untuk memberikan revenue yang layak bagi perusahaan.​

Pelaksanaan pembangunan MRT melibatkan beberapa instansi, baik pada tingkatan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan PT MRT Jakarta sendiri. Oleh karena itu, dokumen anggaran yang diperlukan juga melibatkan lembaga-lembaga tersebut dengan nama program dan kegiatan berbeda namun dengan satu output yang sama, pembangunan MRT.

Visitasi Reakreditasi Teknik Sipil

Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) :

Prof., Dr., Ir., Sunjoto, DEA., Dip.HE (UGM)

Prof., Dr., Ing., Herman Parung, M.Eng (UNHAS)

Alamat : Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) II Lantai 17 – Kemenristekdikti, Jl. MH. Thamrin No.8, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat 10340 Telp: +6221-3169609/3102062, Fax: +6221-3102046

Telah mengunjungi :

Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Sumatera (ITERA) pada tanggal 23 s.d 25 Mei 2017

Copyright © 2016 UPT TIK - Institut Teknologi Sumatera (ITERA)